Preman Bermotor

on
Categories: Cerita Saya

Saat ini di Denpasar sedang hangat hangatnya beredar video yang menampilkan keganasan remaja putri yang menggunting gunting pakaian teman perempuan nya hingga nyaris bugil.

ya nyaris bugil dan telanjang di lapangan luas, menyaksikan video itu saya langsung emosi. namun hanya emosi yang bisa saya luapkan dengan memendam dalam hati.

nah kali ini benar benar saya merasakan sensasi disamber preman bermotor, atau hanya berlagak preman yang menggertak seorang anak cupu seperti saya.

Seperti biasa siang ini saya pulang dari kampus kedua saya di bukit, perjalanan panjang memang menuju denpasar. Bersama ngurah teman saya namun berlainan kendaraan kami saling mendahului dijalanan. Panas dan macet sudah biasa kami alami saat pulang kuliah.

hari ini juga merupakan hari terakhir saya ujian akhir semester 1 di poltek dan sekaligus juga memang akhir saya juga di semester 7 stikom bali.

Macet nya jalan saya lalui dengan santai dan rilex, banyak mobil dan sepeda motor, saat itu di depan saya ada sebuah bis trans sarbagita yang sedang menepi ke kiri (halte) untuk pergantian supir. saya saat itu masih pada jalur disamping kanan badan bis. dikejauhan nampak dua orang laki laki yang sedang mengendarai sepeda moto matic senyam senyum sambil ragu ragu akan menepi atau tidak sambil mereka berkendara lambat dijalur cepat (bypass). karena saya melihat mereka tidak memasang lampu tanda untuk berbelok, saya pikir mereka akan lurus dan saat saya melewati kedua laki laki itu…

NAH, ternyata mereka mendadak berbelok, otomatis dan sedikit dramatis saya berbelok mengkelok bagaikan kijang yang menghindari harimau sambil menoleh kebelakang untuk memastikan tidak terjadi apa apa.

Baca juga  Merakit Komponen Tester ESR Sendiri

santai saya mengendarai sepeda motor selang jarak lima ratus meter dari tempat kejadian, saya disalip oleh dua lelaki yang tadi hampir menabrak saya tersebut.

mereka berkata “ape tolih tolih ci?” (kata kata kasar di Bali) yang artinya, apa kamu liat liat. saya pun bingung mau jawab apa, karena yang saya liat tadi bukan wajah ganteng dan rupawan mereka tapi saya memperhatikan sepeda motor saya yang saya pikir akan ditabrak dua pemuda tersebut.

bingung menjawab apa tida tida saja si ngurah dari belakang membelah kami dengan sepeda motornya sambil berkata “de dijalan, dijalan ne gus” (jangan dijalan, ini dijalan gus). Saya merasa ngurah jadi pahlawan bertopeng saat itu.

Namun sial atau bagaimana, saat itu pun si ngurah juga menjadi sasaran si preman bermotor tersebut. merasa dirinya di mainkan, singurah juga ikutan di tantang satu lawan satu dan disuruh untuk turun dari motornya.

wah benar benar seperti preman, ya preman bermotor. hanya masalah lirik melirik san senggol menyenggol yang biasa terjadi dijalan dan belum tentu dia benar, sudah bisa menimbulkan masalah untuk dua orang dijalan seperti saya dan ngurah.

sejenak perhatianpun tertuju pada ngurah, namun setelah si ngurah pergi dengan tidak menghiraukan tantangan nya tersebut, sayapun kembali menjadi perhatian kedua lelaki pengendara sepedamotor matic tersebut.

Saya kembali diancam dengan kata yang sama sambil saya didekati perlahan. “ape tolih tolih ci”, nah pertanyaan yang kedua ini malah membuat saya tersenyum. masalahnya saya sudah berusaha tidak melihat wajah kedua lelaki yang mengancam itu tapi tetap saja mereka melayangkan pertanyaan yang sama.

Sampai akhirnya saya memperlambat sepeda motor saya, dan salah satu pengendara motor itu berkata, “nah jani be bakat cang”, (nah sekarang dah aku dapetin). mungkin berpikir saya akan melambat untuk berhenti di pinggir jalan. Oh tidak, badan saya yang kurus ceking begini dan dengan pengalaman kerja dibidang pukul memukul yang sama sekali tidak ada tentunya saya harus berpikir dua kali untuk memberhentikan motor saat itu, karena saya sendiri melihat mereka sudah siap untuk jurus pukulan seribunya.

Baca juga  Membuat Genset Otomatis

sayapun berbelok ke sebuah gang dipinggir jalan tersebut, saya lihat di kaca spion, wah ternyata saya diikuti juga. Hati semakin menciut karena yang saya lihat di depan bukanlah sebuah jalan tembus melainkan jalan buntu. sekarang akhir riwayat saya nih. pikir saya.

namun sampai di ujung gang yang buntu tersebut ada sebuah pntu gerbang di sebelah kanan nya yaitu pintu yang membawa harapan baru bagi kehidupan pelarian saya saat itu. langsung saja saya masuk kerumah tersebut dan cuek itu rumah siapa.

sambil tergesa gesa dan kecepatan motor saya sangat cepat saat memasuki rumah tersebut saya berpikir pasti akan dimarahi si punya rumah saat itu, tapi cuek saja daripada digebukin. sampai ditengan halaman saya memarkirkan sepeda motor saya masih melihat dua lelaki itu diam didepan pintu masuk dan mengira saya hanya berpura pura.

Untungnya saat itu rumah yang saya masuki tersebut sangat lah sepi. seperti maling yang sudah profesional, langsung saja saya masuki salah satu pintu di rumah itu untuk meyakinkan kedua preman bermotor itu bahwa saya “orang sini”.

beberapa saat didalam, akhirnya kedua preman bermotor tersebut berbalik arah dan pergi meninggalkan saya. dan saya yang saat itu bersembunyi di suatu kamar kaget karena ada seseorang yang bangun oleh persembunyian saya. langsung saja saya cepat cepat kembali ke bibir pintu dan pura pura masuk sambil berkata, pak… pak….

seorang kakek bangun dan menghampiri saya. saya sendiri linglung harus menjawab apa. langsung saja saya memasang akting tersesat dan bertanya “niki umahne agus nggih?” (ini rumahnya agus ya?) dan si kakek menjawab “agus sira?” (agus siapa?). wah saya kaget, nama agus kan banyak ada sampai lima detik saya bingung mencari nama orang dan saat itu serasa otak menjadi kosong. langsung saja saya teringan satu nama teman saya. “agus suwandira”, dan basa basi dengan si kakek pahlawan kedua pun berlangsung sekitar sepuluh menit.

Baca juga  MP3 langka dengan fungsi Remote

setelah perbincangan yang memang tidak ada artinya selesai saya melihat ada pintu keluar lain dibelakang halaman rumah yang terhubung ke jalan lain di belakang. dengan meminta ijin sayapun pulang melalui jalan belakang dengan harapan tidak bertemu dengan pemuda yang ingin memukul saya hanya karena masalah salah paham dan belum tentu sepenuhnya saya yang salah.